Jumat, 24 April 2009

Gerakan Mahasiswa: Perspektif Historis

Hampir sulit dipisahkan gerakan mahasiwa dengan fase-fase kehidupan berbangsa.
Kekuasan demi kekuasaan sejak jaman penjajahan sampai era Gus Dur berjatuhan oleh
kekuatan pasukan "pamflet" ini. Fenomena ini pun terjadi di negara lain, sebut saja: Juan
Peron di Argentina tahun 1955, Perez Jimenez di Venezuela (1958), Ayub Khan di
Pakistan (1969), Reza Pahlevi di Iran (1979), Ferdinad Marcos di Piliphina (1985), Chun
Doo Hwan di Korea Selatan (1987), dan banyak lagi. Walaupun kejatuhan rezim-rezim
itu tidaklah semata karena gerakan mahasiswa saja, namun perannya sangat signifikan
untuk menggerakan people power dalam proses mendobrak tirani kekuasaan.
Demikian pula tidak seluruh gerakan mahasiswa mampu memberi inspirasi untuk
tumbuhnya perlawanan total masyarakat, serta kemudian berhasil meruntuhkan suatu
rezim, banyak diantara gerakan mahasiswa yang akhir kandas, baik karena tindakan
represif rejim berkuasa, misalnya: kejadian lapangan Tianamen, di Cina. Atau karena
kuatnya posisi politik rezim berkuasa, sebut saja gerakan "Sebulat Suara" dari Majlis
Perwakilan Pelajar di institusi penyajian tinggi Malaysia, yang tidak mampu
menggoyahkan kekuatan Dato Seri Dr.Mahathir Mohamad; sampai awal tahun ini.
Gerakan mahasiswa Indonesia di awali saat kebangkitan nasional di awal abad yang lalu,
yang dimulai oleh geliatnya mahasiswa STOVIA di Jakarta. Dimana salah satu hasilnya
yang saat ini masih bisa dinikmati, adalah Paguyuban Pasundan. Gebyarnya Sumpah
Pemuda, heroiknya perang kemerdekaan, serta berkumandangnya proklamasi
kemerdekaan; lekat dengan dinamika perjuangan mahasiswa di awal sejarah tegaknya
negara kesatuan RI. Demikian pula, saat tahun 1966, dimana rezim Soekarno dianggap
tidak lagi dianggap mampu menanggulangi kompleksitas permasalahan bangsa saat itu,
gelagak semangat kaum muda tumpah ruah di jalanan, yang akhirnya mampu
menumbangkan Presiden RI pertama ini, serta menghantarkan Soeharto dengan rezim
militernya ke tampuk kekuasaan.
Kemudian sejarah pun mencatat, bagaimana kekuatan kontrol sosial (social control)
bergerak mengkoreksi kinerja rezim orde baru di tahun 1974, sampai mencapai
puncaknya di tahun 1978. Perjuangan di dekade itu memang tidak sempat menurunkan
Soeharto dari tampuk pimpinan negara. Malahan beberapa orang aktivis, seperti :
Hariman Siregar, Syahrir, Dipo Alam dan banyak lagi harus meringkuk di sel-sel tahanan
di tahun 1974 akibat peristiwa yang kita kenal dengan peristiwa Malari. Mereka
menentang investasi asing dan utang luar negeri yang kian hari kian membesar dan
berpotensi memberatkan anak cucu kita dikemudian hari. Pada akhirnya, saat ini kita pun
merasakan bahwa yang mereka perjuangkan itu benar adanya.
Demikian pula Iqbal, Heri Akhmadi, dan banyak lagi aktivis mahasiswa di berbagai kota
seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, Jogjakarta harus kembali meringkuk didinginnya sel
tahanan militer. Mereka menentang korupsi yang terus merajalela, serta pemberlakuan
Pancasila sebagai asas tunggal. Aktivitas mereka dianggap menggangu atmosfir
perguruan tinggi, sehingga saat itu oleh Daoed Joesoef (sebagai mendikbud) kampus
harus di normalkan. Keluarlah peraturan pemerintah mengenai NKK/BKK yang
memberangus hak-hak mahasiswa untuk melakukan kontrol sosial, dan melakukan
depolitisasi kampus. Efek konsep NKK/BKK bukan saja merusak tatanan struktural
organisasi intra dan ekstra kampus saja, namun dalam perkembangannya merusak pula
cara pandang dan tingkat kepekaan mahasiswa terhadap permasalahan sosial dan politik.
Dalam jangka waktu yang panjang -celakanya aromanya masih terasa saat inipragmatisme
telah mengotori cara berpikir kelompok elit mahasiswa, dan sebagian besar
mahasiswa menjadi skeptis terhadap masalah-masalah sosial.
Adalah Fuad Hasan, saat menjabat mendikbud, ia mengeluarkan kebijakan yang pada
dasarnya mengkoreksi NKK/BKK, dan keluarlah konsep Wawasan Almamater.
Walaupun belum sepenuhnya memenuhi tuntutan untuk kembalinya independensi dan
student government, bagi organisasi intra kampus, namun celah-celah depolitisasi mulai
terbuka.
Namun sekali lagi, NKK/BKK bukan sekedar masalah struktural tetapi masalah kultural,
perubahan iklim itu lambat diantisipasi oleh aktivis mahasiswa, yang kandung menimati
posisi sebagai "anak manisnya". Sampai pada satu masa dimana isyu pencabutan SDSB
mampu menjadi pemicu gerakan bersama kaum muda kampus. Momen kebersamaan
serta kepengapan politik saat itu, ternyata mampu mengkristalkan sebuah konsep "musuh
bersama", yakni KKN (Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme). Dan pada akhirnya tiba pada
satu isyu klimaks, yakni "turunkan Soeharto".
Dilihat dari hasil akhir gerakan mahasiswa tahun 1998, adalah gerakan luar biasa.
Mampu menarik emphati masyarakat, dan sekaligus mendorong kekuatan infra struktur
politik, yang sekian lama di bawah bayang-bayang supra struktur politik, untuk dapat
berperan lebih aktip. Terlepas seberapa menyebalkannyapun anggota legislatip saat ini,
namun itu adalah kerja maksimal yang dapat dilakukan oleh kekuatan ekstra parlementer,
dalam hal ini gerakan mahasiswa, di tengah kekuatan intra parlementer tidak mampu
melakukan; untuk mengubah keadaan.
Akan tetapi sehebat apapun hasil akhir gerakan mahasiswa tahun 1998, ada satu
fenomena yang menarik dilihat dari sisi kepemimpinan mahasiswa, yakni tidak
munculnya nama-nama terkenal sebagaimana perjuangan serupa di waktu-waktu yang
lalu. Di satu sisi, fenomena ini bisa dipahami sebagai bentuk kearifan dan kebersamaan.
Namun di sisi lain, menimbulkan arogansi kolektif. Setiap orang berhak merasa dirinya
yang paling berjasa.
Dari diskusi di atas, dapat disimpulkan bahwa tipe kepemimpinan mahasiswa saat ini
cenderung kolektip. Masing-masing punya jaringan ke dalam maupun keluar sama
baiknya. Jaringan tidak lagi harus dibatasi oleh sekat idielogis, namun dapat lebih
bersipat pragmatik. Untuk proses pembelajaran adaftasi sosial, fenomena itu sah-sah saja,
namun memiliki potensi rentan terhadap penyusupan kelompok kepentingan. Saat ini
masih banyak kader-kader pemimpin mahasiswa yang memiliki moralitas dan visi yang
baik. Mereka tetap tegar dengan posisi historisnya sebagai corong perjuangan
masyarakatnya, walaupun beban mereka jauh lebih berat dibanding masa lalu, yakni
antara lain, iklim pembelajaran di perguruan tinggi yang lebih condong pada pengukuran
kecerdasan inteketual (IQ) sebagai indikator kebermaknaan hasil pendidikan di perguruan
tinggi. Bravo pejuang muda.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar