Jumat, 17 April 2009

BADKO HMI JABOTABEKA-Banten ikut menjadi Relawan Situ Gintung

Dari Mahasiswa sampai Pengusaha, Semua Jadi Relawan
(Judul Koran KOMPAS TGL 1 April 2009)

Relawan sibuk menata bantuan berupa sembako dan pakaian di posko STIE Ahmad Dahlan, Cirendeu, Ciputat, Tangerang untuk disalurkan pada korban musibah jebolnya tanggul Situ Gintung, Senin (30/3). Akibat musibah ini 98 orang meninggal dunia, 115 orang dilaporkan hilang, dan ratusan rumah hancur
Rabu, 1 April 2009 | 05:44 WIB
KOMPAS.com - Bencana alam Situ Gintung bukan hanya menyisakan kesedihan pada keluarga korban, tetapi juga trauma kejiwaan mendalam.

Namun, para korban itu tidak sendirian. Banyak relawan yang menyediakan waktu, tenaga, dan materi untuk membantu para korban. Dari mahasiswa sampai pengusaha, semua terjun demi satu kata: kemanusiaan.

Yoga Bayuardi (34) misalnya. Pengusaha konstruksi asal Semarang, Jawa Tengah, ini bersama sembilan rekannya yang tergabung dalam tim SAR Daerah Jateng berangkat ke lokasi bencana atas biaya sendiri. Tim yang dipimpin Eko Prayitno (56) itu berangkat dengan tiga kendaraan sejak Jumat pekan lalu.

”Kami relawan pribadi. Kami mengeluarkan biaya sendiri, dikumpulkan secara patungan untuk biaya transportasi dan logistik. Kami lakukan ini semua untuk membantu korban bencana Situ Gintung,” kata Bayu yang ditemui Kompas di tepi Kali Pesanggrahan di kawasan perumahan mewah Bukit Pratama, Tangerang, Banten, Selasa (31/3) pagi.

Bayu yang juga Kepala Seksi Operasi Tim SAR Jateng itu mengungkapkan, semua anggota tim SAR memiliki kualifikasi sama seperti tim SAR TNI dan Polri.

Bayu dan kawan-kawannya tidur di lokasi bencana. Latar belakang anggota tim SAR Jateng bervariasi, mulai dari PNS, anggota DPRD, sampai pengusaha.

”Tidak masalah bagi saya meninggalkan usaha saya berhari-hari. Saya datang ke Situ Gintung karena memang ingin berbagi kepada para korban. Menjadi anggota tim SAR sudah jadi hobi. Mau habis biaya berapa pun tidak dihitung. Kami semua senang menjadi relawan karena sudah jadi dorongan jiwa,” ungkap Bayu, yang merelakan tidak bersama anaknya yang berulang tahun ke-2 hari Selasa kemarin.

”Oleh-oleh” untuk keluarga di rumah biasanya setumpuk pakaian kotor.

Mahasiswa

Relawan tanpa pamrih juga banyak berasal dari kalangan mahasiswa. Di sebuah rumah yang letaknya cukup tinggi dibuka posko relawan mahasiswa.

Sekitar seratus mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi di Jakarta dan Bodetabek terjun langsung ke lokasi bencana. Lima puluh mahasiswa tergabung dalam Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat Cirendeu dan lima puluh lainnya dari Lingkar Studi Mahasiswa (Lisuma). Mereka berkumpul bersama di posko Pertamina Peduli.

Chaerul Basjir, Ketua Umum HMI Jabodetabek-Banten, meminta mahasiswa menghilangkan atribut organisasi. ”Jangan menonjolkan atribut organisasi, tetapi mari tunjukkan bahwa kita mahasiswa juga membantu korban bencana ini,” katanya.

Demikian pula disampaikan Ketua Umum Lisuma Rizky Yulianto (24), yang juga mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Indonesia. ”Kita semua ada di sini untuk membantu korban Situ Gintung,” kata Rizky.

Para mahasiswa membantu mengevakuasi jenazah korban sampai mendistribusikan bantuan. HMI, misalnya, membentuk lima divisi, yaitu Divisi Mapping yang bertugas mencari data korban, Divisi Logistik yang mendistribusikan bantuan, Divisi Kesehatan yang membantu kesehatan korban, Divisi Dapur Umum yang bertugas memasak, dan Divisi Evakuasi yang membantu mencari korban yang masih hilang.

Mahasiswa juga membantu membersihkan bangunan dari lumpur dan sampah. Herlan (18), mahasiswa FISIP Universitas Muhammadiyah Jakarta, misalnya, mengaku terpanggil menjadi relawan karena bencana terjadi di kampus dan seputar kampusnya.

Dewi Riyani (21), mahasiswi Sekolah Tinggi Manajemen Asuransi Trisakti, juga tergugah dan peduli kepada korban.

Palang Merah Indonesia (PMI) Banten mengerahkan 100-an relawan yang siaga di dua posko.

”Mereka datang dari Kota dan Kabupaten Tangerang, Pandeglang, Cilegon, Lebak,” kata Wakil Ketua Umum PMI Banten Airin Rachmi Diany.

PMI Jakarta Selatan mengerahkan 10-20 relawan. Salah satunya adalah Devina (19), mahasiswi Fakultas Psikologi Universitas Katolik Atma Jaya, Jakarta. Selain membantu mencari warga yang hilang, relawan PMI Jaksel melakukan pendampingan medis.

Relawan dari Yayasan Nanda Dua Nusantara melakukan pendampingan terhadap anak-anak korban bencana Situ Gintung. Sekitar 50 orang tidur di tenda di lokasi. ”Kami mitra Kak Seto, yang menghibur anak-anak yang kehilangan orangtua dan saudara,” kata M Yogi Aming (21) dari Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah.

Pada saat korban berduka, relawan-relawan pribadi ini membantu tanpa pamrih. (ROBERT ADHI KSP)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar